Ritual Mesiwah Pare Gumboh Merawat Kebhinekaan

0
93

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Kalimantan Selatan melalui Kepala Seksi Sosial Dasar dan Budaya Masyarakat Ibu Elsa Sari, S.P., M.M. menghadiri acara kebudayaan bernama Mesiwah Pare Gumboh 4 di Desa Liyu Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 22 sampai tanggal 24 Juli 2022.

Ritual Mesiwah Pare Gumboh

Desa Liyu mempunyai adat budaya Dayak Deah yang kental, di antaranya Ritual Mesiwah Pare Gumboh yang diadakan setiap tahun. Tahun ini adalah Mesiwah Pare Gumoh yang keempat. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten Balangan Bapak H. Abdul Hadi, S.Ag.,M.I.Kom.        

Ritual Mesiwah Pare Gumboh dipimpin oleh Aliancen selaku Ketua Adat Dayak Deah. Ritual dimulai dengan iring-iringan masyarakat membawa berbagai macam hasil panen (Nengkuat Mulukng) lalu menyerahkannya kepada Tokoh Adat Dayak Deah (Penyoyokng) untuk disampaikan kepada Sang Pencipta.

Nengkuat Mulukng terdiri dari hasil panen dan juga hewan seperti ayam yang diletakkan di hadapan para Tokoh Adat. Kemudian para Tokoh Adat merapal mantra-mantra ucapan rasa syukur dan doa-doa memohon keberkahan, keberuntungan dan keselamatan untuk masyarakat Dayak Deah. Seluruh masyarakat Adat Dayak Deah juga ikut merapal mantra-mantra. Setelah itu, Nengkuat Mulukng tersebut akan dimasak dan dinikmati bersama-sama pada esok harinya.

tarian Ape Manukurung

Acara dilanjutkan dengan penampilan tarian Ape Manukurung bersama seluruh masyarakat Dayak Deah yang melambangkan pesta panen tersebut penuh dengan kebahagiaan. “Sebenarnya ritual Mesiwah Pare selalu dilakukan oleh masyarakat Liyu secara individu (per keluarga) setiap tahun setelah memetik panen padinya. Namun dikarenakan melimpahnya hasil panen maka Mesiwah Pare dilakukan secara gumboh yang artinya beramai-ramai, sehingga dinamakan Mesiwah Pare Gumboh,” ujar Aliancen.

Ritual Mesiwah Pare Gumboh dijadikan sebuah festival yang meriah pertama kali dilakukan pada tahun 2019 dengan tujuan melestarikan budaya lokal dan agar masyarakat luas mengenal kebudayaan asli Desa Liyu sehingga kebhinekaan terawat. Mesiwah Pare sendiri terdiri dari nyerah ngemonta, ngemonta, nengkuat mulukng, besoyokng, mengudang, nyerah tombai bukan sekadar ritual adat syukuran saja. Mari bersama-sama kita dukung adat dan kebudayaan yang ada di Kalimantan Selatan ini. (Risa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here